Skip to main navigation menu Skip to main content Skip to site footer

Volume 1, No. 01Magenta : Jurnal Ilmiah Komunikasi dan Media

Published August 16, 2017

Issue description

Jurnal Ilmiah Sebagai Indikator Tingkat Produktivitas Ilmiah Dosen

Bagi para akademisi, publikasi karya ilmiah merupakan agenda penting. Bukan semata sebagai prasyarat untuk kenaikan jenjang jabatan fungsional dosen tetapi hal tersebut juga dilakukan sebagai salah satu poin penting dalam menjalankan fungsi Tridharma Perguruan Tinggi oleh dosen, yaitu pelaksanaan penelitian dan mempublikasikan hasil pemikiran serta analisisnya tersebut.

Mayes (1978) menyatakan bahwa jurnal sebagai salah satu terbitan berkala, memiliki fungsi utama sebagai suatu sumber informasi baru. Jurnal menjadi penting setidak-tidaknya bagi sebuah komunitas, berkaitan dengan pekerjaan atau profesi mereka. Mayes menjelaskan, pada awalnya tujuan penerbitan jurnal ilmiah (scientific journal) adalah memungkinkan para filsuf dan ilmuwan untuk mengkomunikasikan ide dan pemikiran mereka kepada orang lain yang tertarik dalam subjek yang sama atau yang berdekatan.

Alasan yang disampaikan Mayes masih tetap berlaku saat ini. Penulisan ilmiah jurnal, komunikasi lebih cepat tersampaikan bila dibandingkan dengan publikasi buku. Walaupun tetap penting, akan tetapi publikasi buku dapat dilakukan setelah publikasi jurnal. Ide dan pemikiran yang tertuang dalam jurnal dapat dikomunikasikan dengan cepat kepada orang lain yang tertarik dalam subjek yang sama atau yang berdekatan dalam satu buah komunitas.

Berangkat dari gagasan untuk meningkatkan kompetensi dosen, peneliti dalam bidang penulisan artikel ilmiah sehingga dapat meningkatkan jumlah karya ilmiah yang bermutu, LPPM Sekolah Tinggi Media Komunikasi (STMK) Trisakti melalui Jurnal MAGENTA berupaya mengaktifkan kembali jurnal ilmiah dilingkup STMK Trisakti. Salah satu indikator dalam menilai tingkat produktivitas ilmiah seorang dosen adalah jumlah dan kualitas publikasi ilmiahnya. Tentunya selain indikator dalam bentuk penghargaan pengakuan karya maupun integritas ilmiahnya, tingkat aktifitas dan partisipasi ilmiahnya pada lembaga-lembaga ilmiah, seminar, lokakarya dan kegiatan ilmiah lainnya.

LPPM STMK Trisakti berkomitmen untuk menerbitkan jurnal ilmiah secara rutin dan berkelanjutan sekurang-kurangnya dua edisi dalam satu tahun. Sebagai bentuk itikad baik maka LPPM STMK Trisakti melakukan penyempurnaan dalam pengelolaan jurnal tersebut dalam upayanya memenuhi ketentuan standar akreditas jurnal DIRJEN DIKTI.

Edisi perdana penerbitan yang terbaru ini, penggunaan nama Magenta tetap dipertahankan demi menjaga keterkaitan naskah-naskah yang telah diterbitkan dalam jurnal sebelumnya dan adanya hubungan emosional terhadap sejarah kelahirannya. Namun untuk memenuhi standar akreditasi jurnal, perubahan dilakukan pada sub judul jurnal. Pada awalnya tertulis Jurnal Ilmiah STMK Trisakti diubah menjadi Jurnal Ilmiah Komunikasi dan Media.

Jurnal MAGENTA kini sudah terbit kembali, kami siap menunggu para dosen untuk produktif menulis dan mempublikasikan hasil kajiannya sesuai bidangnya masing-masing. Selain hal ini sangat bermanfaat bagi dosen untuk peningkatan kompetensinya, dampaknya akan dirasakan pula oleh STMK Trisakti dalam penilaian akreditasi.

Articles

  1. Pengaruh Komik Asing terhadap Visualisasi Perkembangan Komik di Indonesia

    Development of Indonesian comics that has been more than 80 years old is very rarely being topic of scientific study, especially about the history and its realitionship with foreign comics. Comics Industry in Indonesia is dominated by foreign comics, especially manga. Because of the popularity of manga comics in Indonesia, many Indonesian comics have similar visual appearance with the manga. The effect of foreign comics which is familiar by the author. This influence creates an ambiguity of identification Indonesian original comics. This reinforces the author desire to examine the historical development of comics in Indonesia and how far the influence of foreign comic visualization. The method used in this research is a qualitative approach. The explanation of the research methods for the required data will be divided into several different sub chapters. Phases of the research starting from data collection, sampling process, analyzing process, to conclusion. The author uses a random sample representing each decade which are similar with foreign comics. The analysis focused on a visual comic sample that includes panel, the viewing angle and the size of the image in the panel, ditch, bubling, and illustration. Conclusions are taken based on visual analysis of the entire Indonesian comics and foreign comics, and also from the results of both.

  2. Analisis Desain Komunikasi Visual pada Station Id Trans Media Group

    Information and communication is one of the most important necessity in daily life. Media is really affecting human perception side because the function of media is transmitting the information between one to another, not to mention television as an electronic media. Besides as an information transmitter, a television channel should have station ID as their branding environment. The visual of station ID made as aestheic as can be by not ignoring visual communication design rules.

    The method used in this thesis about Trans Media Station ID is qualitative descriptive method. This method was chosen because the information was obtained by interviewing informants whom are station ID designer and then be enligtened by descriptive method.

    After interviewing the informants, obtained information that the main concept of Trans 7 station ID is about the Indonesian culture, based on Trans 7 program are so thick with Indonesian culture. Meanwhile, the main concept of Trans TV station ID is Trans TV as the leading television who can be a determinant of Indonesian people show.

    Although Trnas TV and Trans 7 have different concept in their station ID, but still there are a common thread to their station ID, namely with using the same color, because the color use in station ID is corporate color from Trans Media logo.

  3. Analisis Penerapan Process Standard Offset pada Mesin Cetak Lembaran di PT. Percetakan Gramedia Cikarang

           The development of printing industry are faster on the digital printing and the Internet are moving online world. This would erode offset printing and industrial markets, is a challenge for the field of printing offset printing media.
           Steps to answer the challenge was the implementation of Process Standard Offset is expected to maintain the quality is guaranteed and applies to the entire world. ISO 112647â€2 is standard for Offset where PT. Percetakan Gramedia Cikarang already certified for the process. But still encountered obstacles during implementation so that raises the question, whether the application of the Offset Standard PROCESS there are irregularities? So of writing this study can find problems in the application of Process Standard Offset.
           In this quantitative research data collection taken from the prints in order “A†in the machine KBA Rapida 105 on Coated paper with this parameter measurements on paper color, ink color, dot gain and measured at the color bar and dot step. So that the figures obtained ΔE * and dot gain deviations when compared with ISO 12647â€2.
           From the analysis of the measured data was found deviations in color and dot gain control, so we need to make improvement to keep the appropriate level of quality expected by the customer.

  4. Tinjauan Visual Subyek Foto dalam Karya Fotografi Potret Henri Cartie-Bresson dan Richard Avedon

           Photography potrait is a photography field that highlight the character and traits of someone. In the world of photography there are two world leaders who are pioneers of photography in portrait photography, Henri Cartier-Bresson and Richard Avedon. Both have different theories in doing portrait photography. Conflicts that arise between the two is whether portrait photography should be done naturally or with posing. Of course, both have similarities photographic portraits, which portray someone in a work of portrait photography. This paper will discuss some of the work of portrait photography of Henri Cartier-Bresson and Richard Avedon, and compare the two works to find the answer to whether or not subjects to pose in a portrait photography.

  5. Disaat Fotografi Jurnalistik Bukan Sekedar Pemberitaan

         Dewasa ini banyak foto yang ditampilkan oleh media sebagai foto pemberitaan. Namun bila ditelaah lebih jauh, bidang fotografi mempunyai berbagai jenis dan macamnya, diantaranya adalah bidang fotografi jurnalistik dan fotografi human interest. Tulisan ini mengangkat tentang cara memahami perbedaan antara fotografi jurnalistik dan human interest yang kemudian memunculkan sebuah konsep baru dalam dunia fotografi. Penulis memcoba membongkar kebiasaan fotografer jurnalistik yang sampai saat ini masih banyak yang memenggunakan fotografi human interest dalam pemberitaan. Fotografi merupakan pesan non verbal, yang berarti tak menggunakan kata-kata namun memberikan sebuah gambar dengan makna yang tersirat di dalamnya. Fotografi human interest merupakan foto seseorang (banyak orang) yang sedang melakukan suatu hal, ada sebuah interaksi antara objek dan apa yang dilakukannya. Fotografi jurnalistik dan human interest mempunyai batasan-batasan sehingga hasil foto yang dihasilkan mempunyai karakter tersendiri.